**tulisan (belum diedit) untuk buku Pendidikan Kesetaraan oleh Departemen Pendidikan Nasional
Dari dalam rumah sederhana itu, suara riuh memecah keheningan komplek rumah penambang timah. Wangi harum masakan kue dan candaan-candaan perempuan membawa kehangatan. Sekitar lima orang perempuan berkumpul untuk menghias dua loyang kue bolu, menjadi kue ulang tahun yang cantik. Disertai buku panduan di meja mereka. Ketelitian, kejelian, kesabaran, dan semangat, semua terpancar dari wajah-wajah perempuan di ruang itu.
Mereka adalah murid sekolah kesetaraan paket A, B, dan C Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Jaya Bersama, ada yang baru dua bulan bergabung, beberapa minggu, atau sudah enam bulan lamanya berlatih, dan saling berbagi ilmu. Beberapa tidak tamat SD, SMP, beberapa sebelumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Penghasilan mereka begitu pas-pasan. Tapi kesenangan bisa kembali belajar berhasil mengalahkan kesedihan mereka.
“Ya senang lah ayu, kami bisa berkumpul seperti keluarga di sini, belajar banyak hal. Dari sini kami juga mendapat penghasilan tambahan,” kata Poppy sembari membuat lapisan mentega gula di atas kue tart untuk pesanan sore ini. Jika kebanyakan PKBM di Bangka lebih banyak menggali potensi perkebunan dan perikanan yang kebanyakan dilakoni laki-laki, PKBM Jaya Bersama berbeda dengan yang lain. Kegiatan PKBM Jaya Bersama ini memberi angin segar buat perempuan di sekitar Desa Jelutung, Pulau Bangka. Lewat pelatihan keterampilan memasak dan membuat kue, mereka ingin lebih mandiri dari sekarang.
PKBM Jaya Bersama didirikan sejak tahun 2005 oleh Diah Susilarini. Diah tak ingin hanya dirinya saja yang berhasil, tapi lewat pengalamannya dilapangan, ia ingin membantu perempuan di sekitar desanya untuk meningkatkan penghasilan. Ia mengajarkan apa yang ia bisa, yakni membuat kue, es puter, dan es lilin santan.
Prinsip sederhana ini, adalah prinsip dasar dari PKBM. Dimana masyarakat adalah tokoh utama dalam mengembangkan pendidikan kesetaraan. Lembaga PKBM adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Untuk itu, masyarakat juga perlu bertanggung jawab atas kelangsungan PKBM. Warga belajar dilibatkan dalam berbagai kegiatan, termasuk penyediaan bahan untuk berlatih masak. Diah mengiyakan, bahwa dalam praktek sehari-hari, PKBM Jaya Bersama memang minim biaya.
Minimnya biaya bukanlah halangan. “Kami memang terbatas modal, jadi untuk berlatih, kami membeli bahan patungan, ada yang beli tepung, mentega, telur,“ kata Poppy. Dari modal sekitar Rp 65.000, satu kue ukuran sedang bisa dijual hingga Rp125.000, “Dari penjualan ini kami dapat untung yang lumayan, lalu dibagi-bagi bersama warga belajar, semakin banyak yang memesan kue, kami semakin besarlah untungnya,” kata Poppy sambil tertawa. Sederhana memang, tapi kesederhanaan ini telah membantu perempuan seperti Poppy mampu menambah penghasilan.
Pelatihan memasak yang diberikan Diah hanyalah motivasi, sebagai alat pancing, agar perempuan putus sekolah di Bangka tertarik melanjutkan sekolah lagi. Supaya mereka bisa mendapat kehidupan yang lebih layak. Warga belajar kebanyakan bekerja sebagai tong limbang atau penambang timah, pedagang sayur, atau pembantu rumah tangga. Bisa dibayangkan, penghasilan mereka sangat minim, namun ikatan keluarga dan sharing ilmu dari PKBM Jaya Bersama membuat mereka ingin terus maju. “Pelatihan ini adalah motivasi agar warga belajar mau terus datang, misalnya kalau ingin mendapat ilmu membuat kue, mereka harus ikut program paket dulu,” kata Diah.
Dengan memanfaatkan potensi yang ada di perempuan Bangka, serta kemungkinan permintaan akan kue di pesta ulang tahun, PKBM Jaya Bersama berhasil menggali potensi yang selama ini tidak terlihat. “Alhamdulillah, banyak yang sudah percaya pada kami, tetangga yang ingin mengadakan pesta kawinan atau acara ulang tahun biasanya memesan pada kami,” kata Diah.
Namun, kepercayaan ini adalah perjuangan keras Diah dan PKBM Jaya Bersama selama bertahun-tahun. Masih banyak warga yang memandang sebelah mata kegiatan belajar PKBM, sebabnya, PKBM adalah lembaga pendidikan non formal dan diselenggarakan tidak seperti pendidikan formal lainnya. Saat diadakan tutorial misalnya, warga belajar dibolehkan membawa anak mereka. “Apalagi sebagian besar warga belajar kami adalah perempuan, jadi kalau saat ada pelajaran, di sini ramai sekali,” kata Diah sambil tertawa.
“Namun kami tidak menutup kemungkinan laki-laki menjadi warga belajar kami, selama mereka punya potensi mengapa tidak,” Diah menambahkan.
Setiap minggu, PKBM Jaya Bersama mengadakan kelas dua kali, setiap Jumat dan Sabtu, pukul 14.00 hingga 17.00. Memang, dalam memperlakukan warga belajar PKBM berbeda dengan murid sekolah umumnya. Bila di sekolah formal, guru mengajar untuk mendikte, di PKBM tutor adalah kawan untuk berbagi ilmu. Efeknya berbeda jauh, “Di PKBM ini, warga belajar sangat serius untuk menimba ilmu, sebab mereka berpikir, kemampuan yang mereka dapat bisa dipakai untuk menambah penghasilan, atau perbaikan hidup,” kata Diah. Walau terbatas dalam teknologi, para warga belajar tak mau kalah dengan chef profesional, lewat buku buku masakan kecil yang dibeli, warga belajar diskusi bersama bagaimana cara membuat hiasan tar lapis bolu surabaya siang itu.
Selain pelatihan memasak, PKBM Jaya Bersama juga mengadakan pelatihan tata rias atau kecantikan, sablon, dan membuat snack dan katering. Tutor tersebut memang ahli dibidangnya, sudah ada yang membuka salon dan dipercaya menjadi penyedia jasa katering di Bangka. Sayangnya, masing-masing hanya memiliki satu tutor, karena itulah pelatihan tata rias atau sablon misalnya, tidak bisa dilakukan sering-sering seperti berlatih membuat kue. “Dengan sangat terbuka, kami menerima orang-orang yang ingin menjadi tutor disini,” Diah menambahkan.
Beberapa hambatan memang datang, namun itu menjadi tantangan tersendiri. Sementara ini, beberapa tutor harus merangkap mengajar beberapa mata pelajaran, seperti matematika dan bahasa Indonesia untuk paket B. Untuk pelatihan menyablon dan tata rias misalnya, Diah mengajak temannya untuk mau mengajar, tapi itu juga tak bisa sering-sering. “Kurangnya narasumber di PKBM kami menyebabkan pelatihan tata rias pengantin dan menyablon tidak rutin,” kata Diah.
Salah seorang tutor, misalnya Mifthahurrahmah sudah dua tahun mengajar di PKBM Jaya Bersama. Ia mengajar di Desa Jelutung. Penghasilan sebagai tutor memang tidak besar, namun, ikatan warga belajar, tutor, dan pengurus PKBM sebagai satu keluarga terus membuat Mifthah tetap semangat. “Dalam melewati hari-hari bersama PKBM Jaya Bersama, kami memang mengalami duka, namun rasa suka mengalahkan rasa duka yang kami rasakan, kami ini adalah satu keluarga,” kata Diah dan senyum tulus mengembang dari bibir ibu empat anak itu.
Sembari mengobrol, Diah menyajikan buah tangan buatan PKBM Jaya Bersama, es puter warna merah jambu, es lilin, serta kue bolu lapis Surabaya. Rasanya tak kalah dengan buatan tangan profesional di Jakarta.
Pemasaran yang dilakukan memang sangat sederhana, dari mulut ke mulut. Tapi justru dari sinilah kepercayaan ditanam. Diah awal mulanya hanya menawarkan kue hasil buatan warga belajar ke beberapa orang saja, namun karena keuletan dan rasanya yang menawan, banyak yang tertarik mengajak Diah dan PKBM Jaya Bersama untuk membantu menyediakan katering partai besar untuk pernikahan. “Banyak memang yang meminta kami untuk memasak dalam partai besar, tapi saya belum berani terima, sebab ini kan kepercayaan, ya terutama karena memang modal kami terbatas,” kata Diah sambil berharap.
Di rumah yang juga jadi sekretariat PKBM Jaya Bersama itu, Diah berusaha membagi waktu, antara mengurus keluarga dan mengembangkan PKBM. Saat ini, PKBM Jaya Bersama sudah meluluskan 336 warga belajar. Ia memiliki tiga kelompok belajar, dua kelompok di Paket A, dan satu kelompok di Paket B.
Pendidikan non formal PKBM, mau tak mau memang mengganggu rutinitas warga belajar, beberapa bahkan harus meninggalkan anak dan rumah untuk meluangkan waktu belajar dan berlatih membuat kue. Namun pengorbanan yang mereka lakukan tidak sia-sia, modal pengetahuan yang mereka dapatkan bisa dipakai untuk mendapat penghasilan tambahan.
Memang, untuk pembiayaan PKBM ini terasa begitu berat, sebab kebanyakan pelatihan dan motivasi membutuhkan dana. Misalnya saja, di sekretariat itu, ada refrigator untuk pendingin es puter atau es lilin santan, ada juga pemanggang kue. Peralatan tersebut tentu saja memakan biaya yang besar, belum bahan untuk praktik memasak. Sebagian besar pembiayaan PKBM ini dilakukan secara swadaya yang dilakukan dengan kemitraan dari beberapa pihak, sebab bantuan dari APBN tidak cukup besar.
Kesederhanaan dan keterbatasan bukan berarti tak bisa berkembang. Warga belajar PKBM Jaya Bersama, para tutor, dan Diah Susilariani, berhasil membuktikan semuanya. Di tengah kesibukan sebagai buruh, penjual sayur, dan ibu rumah tangga, mereka masih bisa menyematkan mimpi untuk mendapat penghidupan yang lebih baik, agar keluarga dan anak-anak bisa lebih beruntung dari mereka.



